info@parokiarnoldus.org +6221 880 1763

KITAB SUCI MENGHIDUPIKU


Katekese Memasuki September, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2020

Ditulis Agung F Adi (Tim Kerasulan Kitab Suci Paroki Bekasi)


www.parokibekasi.net


Agung F Adi

September, 1 2020 PAROKIBEKASI.NET
Kita telah memasuki bulan September yang telah ditetapkan sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Saatnya kembali intropeksi : "Apakah kita telah membaca Kitab Suci setiap hari, merenungkan dan melaksanakannya?"

Kitab Suci merupakan surat cinta Allah kepada manusia, dan tentunya kita semakin mengenal Allah dan Puteranya melalui Kitab Suci. Apakah juga kita telah merasakan Kitab Suci sebagai surat cinta? Kalau iya tentunya ada kerinduan yang mendalam ketika membacanya.

Santo Hieronimus menyatakan, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Dengan demikian jika kita ingin bertumbuh dalam iman, salah satunya kita harus lebih mengenal Yesus melalui membaca Kitab Suci.

Ilustrasi untuk memasuki BKSN 2020

Belum semua umat Katolik memahami dengan benar apa itu Kitab Suci. Beberapa tahun yang lalu dalam acara sosialisasi Bulan Kitab Suci yang dihadiri Ketua Lingkungan, Fasilitator dan Pewarta di Aula Gereja St Arnoldus Janssen Bekasi, muncul pernyataan bahwa Kitab Suci itu merupakan buku suci, sehingga tidaklah elok bahkan berdosa jika ada yang memperlakukan dengan tidak baik. Misal mencoret/mewarnai/menandai ayat ataupun meletakan sembarangan. Pernyataan tersebut muncul tidak hanya seorang bahkan ada tiga peserta yang berkomentar.

Bahkan di suatu Kursus Kitab Suci beberapa tahun lalu juga, ada peserta menyampaikan pengalamannya dengan menempatkan Kitab Suci bersama Salib dan lilin sebagai ritual doanya, bukan membacanya. Mari kita bersama-sama menempatkan Kitab Suci dengan benar. Alkitab akan menjadi Kitab Suci, jika kita membacanya, merenungkannya dan melaksanakan FirmanNya. Jadi bukanlah sekedar judul buku, kesuciannya bukan terletak sebagai benda keramat. Melainkan Firman yang menghidupi hidup kita, Firman yang tertulis menginspirasi kehidupan dan ditampilkan di seluruh kehidupan sebagai persembahan bagiNya.

Kita mengimani bahwa Roh Kudus yang memberikan inspirasi kepada para penulis Kitab Suci, dengan demikian kita perlu mengundang Roh Kudus dalam doa kita sebelum membaca Kitab Suci. Karena hanya dengan inspirasi Roh Kudus, kita dapat semakin memahami apa yang dimaksud dalam surat cinta Tuhan.

Pengalaman pribadi, 3 hal yang dapat disampaikan adalah janganlah puas memahami secara harafiah, memahami dengan merenungkannya dan instropeksi kehidupan kita.

BACA JUGA
Homili Pastur Sebastianus Ndona SVD di Minggu ke XXIII dan pengantar memasuki bulan Kitab Suci Nasional di bulan September.

Janganlah merasa puas ketika dapat memahami secara harafiah. Kita perlu merenungkannya apa maksud Tuhan melalui SabdaNya. Karena Firman Tuhan adalah kebenaran, dan di dalamnya ada kehendak dan tuntutanNya, tidak seperti makna harfiah yang sederhana dan dangkal, kita harus memusatkan perhatian untuk merenungkan Firman dengan lebih mendalam. Dengan demikian, kita dapat memahami Firman dengan lebih tepat, dan bagaimana menerapkannya dalam keseharian. Hal ini akan membantu pertumbuhan iman dalam kehidupan kita.

Ketika kita membaca Akitab, kita perlu merenungkan: apa yang menjadi kehendak dan tuntunan Tuhan terhadap kita? Karena itu, ketika kita membaca Firman Tuhan, kita harus sungguh-sungguh merenungkan arti sebenarnya dan konotasi dari Firman Tuhan; dengan ini, kita dapat menghindari diri dari memperlengkapi teori-teori rohani. Karena setiap ayat meskipun kata-katanya sama, namun dibaca oleh orang yang berbeda atau pada waktu yang berbeda akan lain artinya bagi yang membaca dan merenungkannya. Bisa saja kita merasa dihibur, diteguhkan, ditegur atau yang lainnya.

Dalam membaca Sabda Tuhan, kita juga harus melakukan instropeksi, tentang Sabda yang kita baca dan kehidupan kita. Misal, ‘Sejak itu Yesus mulai berkhotbah dan mengatakan, Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat. (Matius 4:17). Kehendak Tuhan Yesus adalah ingin kita benar-benar memiliki pertobatan sejati, dan pada akhirnya bisa memasuki kerajaan surga. Dan untuk mencapai pertobatan sejati, kita harus instropeksi pada diri kita sendiri sehingga kita dapat mengenal kesalahan dan pemberontakan yang ada dalam diri kita sendiri, bagian mana yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan serta kelemahan dan kekurangan kita. Sehingga Firman Allah itu hidup dan menghidupi kita.

Contoh lain: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat" (Matius 5:37). "... Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 18:3). Tuhan menuntut kita untuk menjadi orang yang jujur, tidak boleh berbohong dan menipu orang, kita harus menjadi sama seperti anak kecil yang sederhana dan terbuka, tidak memiliki tipu daya.

Oleh karenanya, dalam membaca Alkitab kita harus memperhatikan untuk mengintrospeksi dan mengenal diri kita, karena penerapan dalam aspek ini sangatlah penting bagi kita. Hanya dengan merefleksikan segala perbuatan dan perilaku kita, serta gagasan dan pemikiran kita, kita akan dapat melihat kelemahan dan kekurangan yang ada di dalam diri kita, sehingga kita merasa sangat mendesak bagi kita untuk mengejar kebenaran dan menerapkan kebenaran. Dengan cara ini, kita juga telah mencapai dampak yang sesuai dalam membaca Alkitab, dan kita akan semakin dekat dari tuntutan Tuhan.

Dalam membaca Kitab Suci kita harus memusatkan perhatian untuk lebih lagi mengenal Tuhan melalui FirmanNya. Karena setiap Firman adalah ekspresi sejati dari kehidupan dan sifat Tuhan. Ini adalah cara penting untuk mengenal Tuhan. Ketika kita mencari dan merenungkan dengan cara ini, kita akhirnya dapat mencapai pemahaman yang benar tentang Tuhan, sehingga ketika hal-hal terjadi, kita akan tahu bagaimana melakukannya sesuai dengan kehendakNya, dan tidak akan dengan mudah melanggar watak Tuhan. Hal ini akan mucul dalam suara hati kita, apakah ini dari Tuhan atau kemauan sendiri. Ciri kalau merupakan kehendak Tuhan, meskipun jika tidak sesuai dengan keinginan kita, jika kita melaksanakannya ada perasaan damai sukacita.

Misalkan ketika membaca Sabda Tuhan: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23). Kita harus belajar untuk berfokus pada upaya mencari tahu watak apa yang Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya, mengapa Tuhan bersabda begitu? Setelah merenungkan, kita dapat melihat bahwa Tuhan tidak memuji semua orang yang percaya, dan yang meneriakkan "Tuhan, Tuhan", seperti orang-orang yang tampaknya melakukan segala sesuatu demi Tuhan, apa yang dilakukan bukan untuk Tuhan, melainkan demi berkat dan agar masuk kerajaan surga. Niat dan tujuannya pribadi, Tuhan tidak menyukainya. Disini, dapat memahami sifat Tuhan bukanlah seperti yang dibayangkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberi manusia rahmat dan penuh belas kasihan dan kasih setia, sebenarnya Tuhan juga memiliki kemegahan dan keadilan; tidak benar dikatakan bahwa selama kita percaya kepada Tuhan, kita semua dapat diberkati dan dipuji oleh Tuhan; hanya mereka yang benar-benar melakukan kehendak Tuhan, mereka yang benar-benar menaati Tuhan Yesus, dan mereka yang mengorbankan milik mereka demi untuk mengasihi Tuhan Yesus serta memuaskan-Nya—akan diberkati oleh Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan Tuhan.

Seperti pengorbanan Petrus, dengan tulus hati demi Tuhan tanpa tujuan atau niat pribadi, semua yang dilakukan oleh Petrus adalah untuk menyenangkan Tuhan, sampai akhirnya disalib terbalik bagi Tuhan. Petrus mencapai kasih yang agung terhadap Tuhan, taat sampai mati, dan telah memberikan kesaksian yang bergema. Orang seperti itu akan menikmati berkat abadi Tuhan dalam Kerajaan Surga. Berbeda dengan orang-orang Farisi yang hanya tampak dari penampilan luar, bekerja keras, berjasa, berkorban namun menentang Yesus.

Penting bagi kita untuk merenungkan dan memahami watak Tuhan ketika kita membaca FirmanNya. Jangan sampai kita mendefinisikan Tuhan dalam imajinasi dan konsepsi kita, yang justru tidak sesuai dengan kehendakNya. Disamping ketiga hal di atas, jika ingin lebih lagi mengenal Kitab Suci dengan benar hendaknya kita rajin dalam pertemuan yang membahas tentang Kitab Suci, mempelajari latar belakang budaya saat penulisan dan tentunya mengikuti berbagai Kursus Kitab Suci baik yang diadakan Paroki maupun Keuskupan. Pengalaman pribadi juga, membaca Kitab Suci setiap hari sangatlah baik, namun jika terus-terusan sendiri sangat berbahaya. Karena ada kecenderungan mengartikan atau menafsirkan Firman Tuhan sesuai kondisi atau pikiran kita yang cenderung egois. Untuk itu kita perlu sering sharing dengan orang lain baik pertemuan lingkungan ataupun kelompok doa. Sehingga kita dapat memahami Firman Tuhan yang diterima oleh orang lain.

Oleh karenanya sharing kehidupan yang kita kaitkan dengan Firman Tuhan sangat penting. Karena akan semakin meneguhkan iman kita juga orang yang mendengarnya. Sharing yang terbaik adalah menyampaikan Kasih Tuhan yang kita rasakan sendiri bukan kisah orang lain. Ketika ketika setiap hari membaca Kitab Suci, tentunya kita seringkali ada Firman yang senantiasa teringat. Khususnya ketika menghadapi peristiwa hidup. Misal, ketika penulis pernah ditipu oleh teman sendiri. Ketika perasaan marah mulai muncul teringat akan Firman yang perlu mengampuni 7x70x7 (tak terhingga). Ketika ingat memohon untuk campur tangan Tuhan agar dapat mengampuni, karena merasa tidak mampu. Ternyata ketika melaksanakan Firman Tuhan sungguh dimerdekakan dari rasa marah, benci dan lain sebagainya. Terbukti ketika ketemu dengan teman yang menipu meskipun ingat akan yang dilakukan namun tidak ada rasa emosi. Hal inilah yang kita sharingkan pengalaman pribadi ketika ingat akan Firman Tuhan dan melaksanakannya, juga akan Kasih Allah, misal tentang kesungguhan doa yang menenangkan hati meskipun tidak terkabul sesuai keinginan kita, namun Tuhan memberikan damai sukacita bahkan solusi dalam menghadapi pergumulan. Jadi ketika ingat Firman Tuhan, pilihannya ada pada kita. Menjadi pelaku Firman atau menurut keinginan kedagingan kita. Mari kita menjadi saksi Kristus dengan menjadi pelaku Firman serta damai sukacita Kristus yang kita rasakan kita wartakan kepada setiap orang yang kita temui. Karena kita dimampukan merasakan Kitab Suci yang menghidupi hidup kita.

Tuhan Memberkati.


RENUNGAN LAINNYA


Menjadi Murid Yesus Di Belakang Layar
September, 18 2020 | Luk 8:1-3

Dosa Dijauhi Orang Berbuat Dosa Dikasihi
September, 17 2020 | Luk 7:36-50


Peringatan St. SP. Maria Berduka Cita
September, 15 2020 | Luk 2:33-35

Homili Misa Minggu Biasa XXIV.
September, 13 2020 | Mat 18:21-35


Mencintai Musuh Adalah Kelebihan Orang Kristiani
September, 10 2020 | Luk 6:27-38

Sikap Hidup Yang Dinamis Awal Kemajuan
September, 09 2020 | Luk 6:20-26



Homili Misa Minggu XXIII
September, 06 2020 | Ajakan BKSN 2020