Oleh: Eny Susatyo*

Pendamping Keluarga?
“Tidak ada yang bersedia bu.”
“Sulit mencari yang pas, banyak keluarga muda, yang masih punya anak kecil,…”
“Kami belum pantas bu, kami sendiri banyak masalah…. “

Begitulah jawaban yang kami dapat setiap kali kami menghubungi para Ketua Wilayah untuk menanyakan tentang Proposal “ Program Pembekalan Pendamping Keluarga “ .  Padahal, program ini diselenggarakan untuk menanggapi kebutuhan umat dalam pendampingan keluarga bermasalah.  Lalu dimana salahnya? saya pikir tidak ada yang salah! justru disinilah kita dapat memahami apa yang dimaksud dengan “banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”.

Setelah melalui persiapan selama sekitar 3 bulan, dengan berbagai dinamika dan usulan serta masukan dari banyak pihak, akhirnya disepakati Program Pembekalan Pendamping Keluarga di Paroki St. Arnoldus akan diselenggarakan mulai tanggal 14 Juli s/d 01 September 2009. Pertemuan diadakan setiap hari Selasa malam selama 9 kali pertemuan dan ditutup dengan Retret Pengutusan selama 3 (tiga) hari di Wisma PGI Cipayung. Panitia pelaksana kegiatan ini adalah SKK (Seksi Kerasulan Keluarga) bekerjasama dengan PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik) dan Wanita Katolik RI Cabang St. Arnoldus.

Pasutri peserta kursus

Pasutri peserta kursus

Dari 39 wilayah yang diundang, akhirnya datang 19 pasutri  mewakili 16 wilayah. Syukur kepada Allah! Kami sempat cemas, bagaimana kalau sampai hari H ternyata hanya sedikit yang mendaftar.  Tetapi Romo Ansel melalui sms-nya (karena beliau sedang berada di luar kota) juga Romo Hendrik dalam pertemuan panitia  menyampaikan… ”jangan takut, berapapun yang mendaftar terus lakukan! yang sedikit itulah yang dipilih .” Dan betul apa yang disampaikan oleh Romo; mereka yang datang  adalah orang-orang yang terpilih! Orang yang rendah hati, orang yang mengaku “justru berangkat dari ketidaksempurnaannya maka mereka mau datang”, bukan karena merasa “lebih baik dan lebih super”

Meskipun persyaratan sebagai peserta dikatakan “agak berat”  setidaknya demikian yang kami tangkap dari komentar banyak pihak. Tetapi sebetulnya, modal yang paling penting untuk mengikuti program ini adalah “kemauan untuk melayani”. Persyaratan lain justru akan terpenuhi selama proses. Hal ini seperti diungkapkan oleh salahsatu peserta yang menyampaikan, “kami banyak kekurangan dan punya masalah dalam keluarga, kami mengikuti program ini supaya lebih mengenal diri sendiri dan pasangan, sehingga kami tahu bagaimana mengatasi masalah. Dan jika diperlukan kami pun akan dapat membantu sesama kami.”

Dalam homilinya pada Misa Pembukaan, Romo Victor SVD menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada para

Calon pendamping keluarga

Calon pendamping keluarga

pasutri yang mau membuka hati, membuka diri, datang ke tempat ini untuk mengikuti kursus pembekalan selama 9 kali pertemuan, dan nantinya masih akan dilanjutkan dengan retret pengutusan selama 3 hari. Tentu bukan perkara mudah, butuh kesabaran, kekuatan dan kerendahan hati untuk setia.  Kita semua dipanggil …(meskipun hanya sedikit yang dipilih !) dan diutus untuk menjadi gembala bagi domba-domba yang tersesat, yang sakit, yang terbelenggu dll.

Di luar, ada banyak masalah yang akan kita hadapi, banyak keluarga-keluarga yang punya berbagai macam problem. Melalui bacaan Injil  Yoh 8: 2 – 11, Yesus mengajarkan kepada kita, ketika menghadapi orang yang bermasalah:
* Kita harus mendengarkan dengan “ hati ”
* Kita tidak boleh menghakimi
* Kita hadir  sebagai sahabat yang bisa dipercaya,  menjaga rahasia
* Tidak ada hal/masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Pada hari pertama pelaksanaan Program Pembekalan Pendamping Keluarga, Romo Sylvester Nong, Pr memberikan materi tentang “Spiritualitas Kerasulan Keluarga”.

Dalam sesi ini Romo Syl menekankan pentingnya peranan masing-masing anggota keluarga dalam menguduskan keluarganya. Dan hal ini dapat terwujud jika :
* Doa menjadi unsur pokok dalam kehidupan keluarga
* Bersama Yesus, berdoa BAPA KAMI setiap hari dalam keluarga

Karena dengan DOA, Yesus Putera Allah  hadir di tengah kita,  bersama Yesus kita mampu menghadapi setiap badai dan gelombang dalam hidup kita, dan doa  membentuk hati nurani menjadi bersih, dan mampu mengatasi yang tidak bersih.

Lebih lanjut Romo Syl menyampaikan empat hal penting yakni: pertama, kekudusan suami isteri dipercayakan dalam diri pasangan, kalaupun nantinya terjadi “keretakan”, ingatlah,  ada tukang periuk yang siap menambal dan merekatkan pecahan-pecahannya menjadi bejana tanah liat yang lebih indah; kedua, mujizat dalam Perkawinan di Kana (Yoh 2: 1-11). Kalau keluargamu kehabisan anggur, datanglah kepada Maria yang akan membantumu; ketiga, spirit Keluarga Kudus hendaknya menjadi spirit dan teladan keluargamu; dan keempat, kuduskanlah keluargamu, maka kamupun mampu menguduskan keluarga-keluarga di sekitarmu.

Perjalanan masih panjang, masih ada 8 kali pertemuan lagi yang akan disampaikan. Kami membutuhkan dukungan dan doa dari Anda semua untuk mewujudkan cita-cita dan harapan dalam melaksanakan program ini, yaitu:
* Tersedianya pasutri pendamping keluarga yang akan membantu Pastor Paroki dan SKK dalam karya kerasulan keluarga baik di tingkat paroki maupun di wilayah masing-masing.
* Membuka Ruang Konsultasi Pendampingan Keluarga di Paroki Santo Arnoldus

Setelah membaca rubrik ini, barangkali ada yang tergerak untuk bergabung, jangan ragu-ragu untuk menghubungi :
Eny Susatyo 8804858/08129543654
Ning Hendro 8212652/08151669728
Sekretariat Paroki 8801763

* Ibu  Eny Susatyo adalah salah satu pengurus DP di Seksi Kerasulan Keluarga dan terlibat dalam penyelenggaraan Program Pembekalan Pendamping Keluarga di Paroki St. Arnoldus Janssen th. 2009

Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:

Artikel terkait:

  1. Jadwal Misa Paskah Paroki St. Arnoldus Janssen, Bekasi
  2. Retret pasutri “Keluarga Diberkati” Paroki St. Arnoldus
  3. JADWAL PERAYAAN MISSA NATAL 2009 PAROKI ST. ARNOLDUS JANSSEN, BEKASI
  4. Misa Perdana Umat Paroki St. Arnoldus Bekasi Kawasan Selatan
  5. Kebersamaan Imam dan Umat (Catatan 30 Tahun Paroki St Arnoldus Bekasi)

Tags: , , ,

4 Responses to “Pendamping Keluarga Paroki St. Arnoldus, Bekasi”

  1. cornelius priyadi says:

    salam damai dalam kasih TUHAN YESUS.
    Saya jemaat baru dari surabaya paroki st.vicentius a poulo widodaren.
    dan saya sekarang tinggal di griya asri blok h2 no 68 bekasi.

    • Gege Nugroho says:

      Selamat datang di Bekasi Pak Cornelius…
      Semoga website Paroki ini bisa menjadi jembatan informasi bagi Bapak sekeluarga dan rekan-rekan yang lain.

      Salam Damai.

  2. putri fw says:

    Wow….proficiat yeah…mbak Enny!! & Team SKK, saya salut & kagum dgn kegiatan ini, saya sangat dukung! andai suamiku ada di bks, saya mau banget ikut sbg peserta.

    Soal peserta, bener kata Rm2 itu jangan takut… mau seberapapun go aja…!! justru kelas kecil itu bisa lbh optimal, yang penting kan output nya, banyak2 juga kalo ga ada hslnya kan sia2… biasanya kelas unggulan itu “jumlah muridnya emang dikit koq”

    Saya setuju pasangan yg datang mjd peserta tidak harus selalu berangkat dari keluarga yg tidak pernah punya masalah… krn itu bohong besar kalo dalam hidup berkeluarga kita tidak pernah punya masalah…. nah menurutku dengan adanya wadah ini, justru bisa sekalian sbg wadah peserta tuk lebih meperkokoh keharmonisan keluarga, krn pasangan juga bisa introspeksi & pd waktu menghadapi pasien (eh…sori mksdnya keluarga yg menyatakan diri ada masalah) kita bisa mensharingkan pengalaman pribadi, itu akan lebih mengena… drpd cuman menonjolkan diri “keluarga kami damai2 aja tuh…nggak pernah ada masalah… ayo dong contoh kami!!!”
    Karena memang benar, untuk bisa menjadi pendamping butuh : 1) kerendahan hati, 2) mau mendengar bukan menghakimi, 3)punya rasa empati, 4)siap berkorban terutama waktu, 5) mampu mengarahkan & mengambil sikap (jangan pula ikut larut dalam masalah org lain, itu namanya nambah masalah hehehe…)

    Ok… Goodluck Mbak ku…. Salam buat rekan2 semua!!!

    Putri

  3. gatot st says:

    proficiat kepada para pasutri dan tentunya skk, semoga keluarga2 di arnoldus makin menjadi keluarga yang sakinah dan barokah, amin. apa mungkin ya 19 pasutri itu menjadi penggerak, semacam pelaksana rekoleksi berkelanjutan dalam satu tahun (tentunya pe er pengurus yad), selain sebagai pendengar/konselor pasutri lainnya.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>