Renungan Minggu Biasa XXII 30 Agustus 2009
Ul 4:1-2. 6-8; Yak 1:17-18. 21b-22.27; Mrk 7:1-8. 14-15. 21-23
Oleh: Rm. Victor Bani, SVD
Beberapa waktu belakangan ini berbagai media massa di tanah air ramai memberitakan rencana Departemen Agama Republik Indonesia mengajukan Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal yang bertujuan untuk menjamin tersedianya makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimia biologik dan produk rekayasa genetik yang terjamin kehalalannya menurut hukum syariah Islam. RUU ini segera mengundang pro dan kontra. Mereka yang setuju beralasan bahwa negara perlu menjamin produk yang dihasilkan dan dijual bagi masyarakat, halal menurut hukum Islam. Sementara itu mereka yang kontra mengatakan bahwa urusan halal dan haram bukanlah urusan negara, melainkan urusan masing-masing agama.
Masalah halal dan haram, tahir dan najis bukan saja menjadi problem orang-orang modern dewasa ini, tetapi juga telah menjadi persoalan para imam-imam Yahudi pasca pembuangan Babel. Sebenarnya ‘kebersihan’ yang menjadi masalah –dalam injil- tidak punya hubungan langsung dengan ibadat melainkan dengan hidup sehari-hari. Mencuci tangan sebelum makan –misalnya- adalah persoalan higienis, tapi bagi orang Yahudi hal tersebut dihubungkan dengan persoalan keagamaan. Ketika Yesus dan para murid-Nya kurang mempedulikan hal itu –padahal Dia adalah ‘Pengajar’ yang seharusnya menunjukkan teladan yang baik kepada masyarakat umum- Dia dimintai pertanggungjawabannya oleh para pemimpin agama, mengapa gaya hidup-Nya dan para murid-Nya bertentangan dengan segala adat kebiasaan dan semangat keagamaan yang baik, yang tradisinya telah dijaga secara ketat selama ribuan tahun.
Lalu apa jawab Yesus? Bukannya menjelaskan mengapa gaya hidup-Nya berbeda dengan para pemuka agama Yahudi, Yesus malah balik mengkritik mereka. Sebenarnya Yesus tidak mempermasalahkan apa yang telah menjadi kebiasaan dan adat istiadat orang-orang sebangsa-Nya. Tetapi ketika hal-hal lahirian tersebut –persoalan halal dan haram, tahir dan najis-menjadi hal yang paling penting dalam praktek hidup keagamaan sehingga melupakan hal-hal batiniah, bagi Yesus, mereka bukan saja tidak mendengar apa yang telah dikatakan oleh para Nabi dan kitab-kitab hukum mereka, tetapi juga telah melawan apa yang menjadi kehendak Allah. Akibatnya, mereka menjadi orang yang hanya menyembah Allah dengan bibirnya saja, padahal hati mereka jauh dari Dia.
Orang bisa saja bersih secara lahiriah, tetapi itu belum merupakan jaminan bahwa hatinya pun akan otomatis bersih. Hati yang kotor membuat orang jauh dari Allah. Kedekatan kita pada Allah tidak terletak dalam ketaatan mengikuti peraturan halal dan haram, tahir dan najis, melainkan pada pikiran atau hati kita yang bersih. Kesembilan dosa pokok yang disebut Yesus semuanya berawal dari hati atau pikiran manusia. Perzinahan, keserakahan, pembunuhan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan dan kebebalan, semuanya berasal dari hati dan pikiran yang jahat. Dari sanalah mengalir segala kejahatan dan dari sana pulalah kita menjadi tahir atau najis. Tahir dan najis dalam konteks ini adalah soal hati, bukan masalah lahiriah semata.
Dalam konteks hidup harian kita, di banyak tempat, agama lebih merupakan soal ritus dan menepati peraturan. Seseorang dikatakan baik hidupnya dan benar tindakannya bila dia menjalankan segala ritus dan peraturan keagaamaan seperti yang telah ditetapkan. Padahal, bukan itu yang dikehendaki oleh Allah. Cuma satu yang Dia kehendaki, yaitu menyembah-Nya dengan hati dan pikiran yang murni, tulus dan bersih.
Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:
- minuman halal dan haram (3)
- hidup dan perkembangan arnoldus janssen (2)
- masalah halal haram makanan moden (2)
- haram dan halal dalam katolik (2)
- haram dalam katholik (2)
- agama leonardus lumbantoruan (1)
- makalah makanan halal dan haram (1)
- makalah makanan minuman halal (1)
- makalah tentang makanan dan minuman yang halal dan haram (1)
- Makalah Tentang MAkanan Halal Dan Haram (1)
Artikel terkait:

![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=3a6b29e5-d641-4575-bcf6-d1338230dcfa)

Trims Pastor..Ulasan yang bagus untuk di maknai sesuai bacaan injil.
Best Regards & nice weekend
Salam dari Arnoldus,
Thanks juga Pak Leo untuk komentar-komentar segarnya. Kami butuhkan banyak masukan untuk perkembangan website kita ini. Gimana Lisa dengan bahasa Jermannya?
Wasalam