16th Century Painting by Michelangelo Anselmi ...

Image via Wikipedia

“Bahkan andai tak seorang pun melihat kebaikan Anda, selalu terbuka pintu untuk mengenang Anda.” ~Anang Y.B.

Sabtu (13/6) malam, sebuah obrolan dengan kawan karib membuka sebuah tabir yang tertutup selama hampir setengah tahun. Sebuah serpihan puzzle yang nyaris terlupakan. Sebuah kisah yang beberapa bulan tersimpan dan tak tersampaikan kepada orang yang sungguh menantikan kisah itu.

“Awalnya saya hanya heran dan berkata dalam hati, apa-apaan ini orang-orang kok pada tiduran di tengah jalan,” tutur Pak Siga sahabat karib saya itu. “Jalanan di perumahan Mutiara Gading Timur, Bekasi yang belum selesai dibangun itu memang lebar namun gelap. Listrik penerangan jalan  belum terpasang. Saya perlambat sepeda motor saya dan lewat sorot lampunya, saya bisa melihat dengan lebih jelas, lima orang terkapar di aspal bersanding dengan dua sepeda motor yang rubuh di samping mereka!”

Pak Siga sahabat saya yang kelahiran Manggarai, Nusa Tenggara itu menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Kami—saya dan sekitar lima belas orang yang mengeliling Pak Siga—menunggu kelanjutan cerita dengan debaran jantung yang lebih kencang.

Saat itu, Pak Siga bergegas turun dari motor dengan tetap membiarkan mesin menyala agar ada cahaya yang cukup untuk menerangi tempat itu. Jalanan begitu sepi walau azan isya belum lama berlalu. Orang pertama yang didekati Pak Siga adalah seorang anak muda usia tanggung, mungkin dua puluhan tahun. Posisinya agak terpisah dari keempat korban lainnya.  Tampaknya satu sepeda motor yang ditunggangi pemuda ini telah menabrak tanpa ampun satu keluarga yang berboncengan mengedarai sepeda motor berempat. Dipegangnya nadi anak itu, tak ada denyut yang terasa. Ditepuknya kepala dan digoyang beberapa kali tetap saja kepala itu lunglai tanpa reaksi.  “Saya pikir orang itu sudah mati. Ya sudah, mau apa lagi?” Pak Siga pun beranjak menuju pada empat orang lainnya. Seorang ibu membujur  tanpa gerak walau tak banyak luka. Tetapi tetap saja tidak bergerak saat Pak Siga menggoyang-goyangkan badannya. Benturan yang teramat keras mungkin telah menghilangkan kesadaran (atau nyawanya?) dalam hitungan sepersekian detik.

Di sisinya seorang bapak terkapar dalam posisi tengkurap. Ada genangan darah selebar wajah menggenang di bawah wajahnya. Alirannya berasal dari bagian kepala si bapak. Si bapak pun tak ada reaksi apa pun saat ditepuk-tepuk. Dua korban lainnya adalah dua orang putri, kemungkinan kakak dan adik. Si kakak tak beda jauh dari kondisi kedua orang tuanya, diam dan tak bereaksi. Satu-satunya yang bisa merintih lirih adalah putri yang lebih kecil. Merintih walau tanpa mampu menggerakkan tubuh.

Lima korban terpakar. Tak tahu mana yang masih selamat.  “Kendaraan yang pertama kali melintas adalah sepeda motor,” cerita Pak Siga lagi kepada kami. “Saya panggil-panggil, motor itu hanya melambat sebentar dan langsung tancap gas begitu melihat saya berdiri di antara lima orang yang terkapar di jalan.”

Pak Siga tidak mungkin meninggalkan kelima orang malang itu begitu saja. “Akhirnya ada taksi lewat. Saya teriak sekeras yang saya bisa. Sial! Taksi itu pun kabur, bahkan tanpa membuka kaca jendela satu senti pun.”

Pak Siga masih mendengar rintihan dari salah satu orang yang terkapar ketika ada satu sepeda motor yang melintas. Untunglah pengendara itu mau berhenti. Tanpa minta persetujuan, sepeda motor itu pun dia ambil alih dan dipasangnya melintang di tengah jalan. Tak lupa diraihnya satu kepalan batu dan digenggamnya kuat-kuat.

Ketika sesaat kemudian ada mobil melintas, buru-buru Pak Siga menghadangnya. Mobil itu pun terpaksa berhenti karena terhalang sepeda motor. Mobil itu berusaha untuk beringsut-ingsut terlebih saat melihat ada beberapa orang terkapar di jalan. Pak Siga pun membentak, “Pilih mana, menolong orang-orang ini atau mobil kamu aku hancurin pakai batu ini?”

Turunlah pengemudi itu dengan ketakutan.  Mungkin juga karena dia tidak rela mobilnya lecet. “Baik Pak… saya tolong. Tetapi saya tidak tanggung jawab soal ini, Pak,” katanya.

“Saya yang tanggung jawab!” hardik Pak Siga.

“Lantas siapa yang mau ngangkat ke mobil?”

“Saya!” kata pak Siga dengan nada keras.

Satu per satu tubuh-tubuh tak bergerak itu diangkatnya ke dalam mobil. Tak peduli baju dan darah beralih ke pakaian Pak Siga. Salah satu korban, anak yang lebih besar kini bisa mengerang kesakitan saat coba diangkat. Dipegang kakinya mengerang. Dipegang punggungnya mengerang. Lebih-lebih saat diangkat kakinya. Tampaknya tulangnya–entah bagian yang mana—telah patah.

“Kamu buruan ke rumah sakit di sana itu,” perintah Pak Siga tegas kepada pengemudi mobil. “Ikutin saya. Saya naik motor!”

Untunglah pihak rumah sakit cekatan. Kelima korban diurus dengan baik walau kelimanya harus segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. “Siapa keluarganya? Surat rujukan ini harus ada yang menyetujui?” kata petugas rumah sakit. “Tak ada orang lain, saya pun pasang badan,” tutur Pak Siga.

Saya dan belasan orang lain yang mendengar penuturan Pak Siga seperti tersihir. Sungguh suatu kejadian yang mengenaskan.

“Jadi, sejak kejadian itu Bapak tidak ketemu dengan orang-orang yang Bapak tolong?” tanya saya.

Pak Siga menggeleng. “Saya tidak pernah ketemu mereka lagi. Bakhan, saya tidak tahu bagaimana kondisi mereka sekarang.  Memang,  saya tahu kalau mereka tinggal di sekitar sini. Anak yang terkecil sempat mengucap lirih… griya… griya…. Mungkin maksudnya perumahan Griya Timur.”

***

Apa yang dituturkan Pak Siga adalah kejadian di hari Natal tahun lalu. Jadi, sudah berlangsung sekitar enam bulan lalu. Cerita Pak Siga mengejutkan saya dan semua yang hadir malam itu. Termasuk Pak Siga.

Ya, siapa mengira kalau yang ditolong Pak Siga adalah keluarga Adel sahabat saya juga? Siapa juga membayangkan bahwa Pak Siga adalah satu gereja dengan keluarga Adel? Bahkan, andaikata Sabtu itu keluarga Adel memenuhi undangan saya untuk latihan kor, pastilah mereka akan bertemu dengan sang dirigen pemilik suara emas, Pak Siga penolong mereka! Ya, rumah Keluarga Adel tak lebih dari seratus meter dari tempat Pak Siga melatih kami kor selama beberapa minggu ini.

Sekian lama keluarga Adel menyimpan keinginan untuk bertemu dengan penolong nyawa mereka. Setengah tahun berlalu, dan titik terang itu kini telah memancar. Pak Siga pun tampak berseri-seri saat saya kabari bahwa kelima orang yang ditolongnya bisa terselamatkan nyawanya.

Latihan kor usai, malam itu juga saya  mengantar Pak Siga yang didampingi istrinya bertandang ke rumah keluarga Adel. Sayangnya, rumah mereka sepi. Mungkin sedang gereja, atau pulang kampung. Andai pertemuan itu terjadi, bisa jadi kisah ini akan lebih panjang lagi. Dan, lebih mengharukan tentunya. Semoga Sabtu ini, Pak Siga masih memimpin kor sekali lagi, agar ada hari untuk bertemu dengan orang-orang yang telah merasakan kebaikan hatinya.

Pak Siga dan kisah nyatanya telah menambah satu kekayaan batin buat diri saya. Saat berbagi kasih, lakukan sepenuh hati dan setulus hati. Tak peduli siapa Anda dan siapa yang Anda tolong. Apakah Anda orang Manggarai atau orang Samaria sekali pun. Teruslah berbagi kasih tanpa pamrih. Biarpun orang yang Anda tolong tak bisa menjabat tangan Anda, biarpun yang Anda selamatkan tak bisa mengucap terima kasih walau dengan suara lirih sekalipun. Teruslah berbagi kebaikan, bahkan andai tak seorang pun melihat kebaikan Anda,  sebab selalu terbuka pintu untuk mengenang Anda.[ayb]

Reblog this post [with Zemanta]

Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:

Artikel terkait:

  1. „Menjadi Orang Kaya yang Pandai“
  2. Relasi Kasih Allah Tritunggal
  3. JADWAL PERAYAAN MISSA NATAL 2009 PAROKI ST. ARNOLDUS JANSSEN, BEKASI
  4. Orang Kudus dan Kita
  5. Mau jadi yang terbesar (dalam Kerajaan Surga)? Siap-siaplah jadi yang terkecil!!!

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>