Oleh: Anang, Y.B.
Website www.paroki arnoldus.org sudah bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Kehadiran web ini bisa kita pandang dari dua sisi: sebagai hadiah untuk umat di puncak perayaan ulang tahun paroki, bisa juga sebagai “bayi” yang harus diadopsi, dibesarkan, dan digemukkan oleh (calon) pengurus DP yang baru!
Parokiarnoldus.org yang baru sebulan usianya bukanlah web pertama yang digagas dan dilahirkan di paroki Arnoldus. Dan keberanian melahirkan kembali web paroki menandakan bahwa para gembala (baca: pastor) dan pengurus DP memiliki niat kuat untuk mewujudkan sebuah media komunikasi yang lebih keras gaungnya, lebih jauh jangkauannya, dan tidak terbatas waktu maupun sekat-sekat ruang. Sebuah kaul untuk mewujudkan relasi baru dengan mengendarai tekhnologi bernama internet yang nyatanya telah diagungkan oleh banyak orang.
Web paroki tak ubahnya dengan buletin paroki. Keduanya adalah sarana komunikasi. Alat untuk mempertegas dan melanggengkan relasi, sukur-sukur menjadi relasi yang semakin intim. Inilah sarana untuk menceritakan dan mewartakan apa yang terjadi di paroki, meneruskan degup jantung umat, membagikan satu keluh kesah agar dapat didengar dan direspon oleh yang lain. Itulah salah satu fungsi hakiki dari sarana komukasi yakni interaksi yang tidak cuma satu arah. Bila perlu, sarana komunikasi berupa web paroki maupun buletin paroki dapat melahirkan pancaran komunikasi multi-arah: dari gembala untuk umat, dari umat menuju umat, dari umat untuk gembala, dan dari kita umat Paroki St. Arnoldus kepada masyarakat luas.
Kematian Website
Sebuah media komunikasi pasti ada matinya, jadi Anda jangan gusar dengan judul yang saya pakai. Telegram bisa lenyap dari hadapan kita; berkirim surat menggunakan amplop dan perangko tinggal kenangan manis; berbagi info lewat radio panggil juga cuma cerita konyol bagi yang pernah memakainya di tahun 80-an. Teknologi bisa saling gusur dan saling mematikan, demikian pula dengan website paroki ataupun juga buletin paroki.
Tragisnya, di beberapa tempat sering kali sebuah media komunikasi mati sebelum waktunya. Mati pada saat di tempat lain media semacam itu justeru sedang digandrungi orang banyak. Coba tengok puluhan website gereja maupun web milik kelompok-kelompok di dalam gereja yang ada di internet. Seberapa banyak yang masih dikelola dengan semangat menyala-nyala seperti saat diluncurkan pertama kali? Telisiklah tanggal posting dan update mereka terakhir kali. Minggu kemarinkah kah? Atau bulan lalu, empat bulan lalu, atau malah masih berstatus under construction sejak diluncurkan? Lihat juga siapa saja yang mengirimkan artikel di sana. Jangan-jangan cuma ada panitia tunggal! Satu orang merangkap pembuat web, sekaligus pengisi artikel, sekaligus pengunjung. Persis seperti seorang penunggu kuburan! Kesepian dalam pengabdian tanpa mendapat sapaan.
Web paroki akan kehilangan napasnya dan mati saat kata “komunikasi” tinggal menjadi deretan huruf tak bermakna penghias halaman depan web tersebut. Kematian web paroki bakal terjadi saat pengelola asyik dengan dirinya, menjejali web dengan seabreg tulisan, gambar, bahkan iklan yang bukan materi yang didamba umat. Web juga bakal sekarat saat pengelola kehilangan semangat dan tak lagi ingat akan impian di awal merintis web.
Di sisi lain, web juga sekadar menjadi seorang pengkotbah yang berteriak-teriak di tengah padang gurun senyap saat umat menutup telinga, mata, dan hatinya atas kehadiran sarana komunikasi bernama web ini. Ruang-ruang layanan seperti konsultasi online dengan pastor hanya menjadi bilik kosong melompong persis ruang pengakuan dosa selepas masa advent dan pra paskah. Renungan-renungan yang ditulis gembala maupun kontributor dengan sepenuh hati seolah hanya menjadi brosur tawaran harga yang kita terima saat mampir di mal, dilirik sekilas lantas ditinggalkan tanpa niat sedikit pun untuk sekadar menulis di kolom komentar, “…terima kasih atas renungannya, Romo.”
Terlalu mudah untuk mematikan website paroki. Cukup dengan mematikan naluri kita untuk bersosialisasi, berkomunikasi, berbagi inspirasi dan membangun relasi baru. Segampang itu!
***
Internet saya yakini masih menjadi sarana ampuh untuk menjalin relasi baru bahkan hingga satu dekade ke depan. Paus pun lewat pesan di Hari Komunikasi Sosial Sedunia sepakat mengenai hal tersebut. Berita lokal dari paroki Arnoldus mungkin hanya setetes embun kecil di jagat internet. Tapi yakinlah, embun ini bakal menyatu bersama berita-berita lokal dari paroki lain di seluruh bumi dan membentuk sungai penuh gelegak air sejuk yang berasal dari mata air yang satu, yakni Hati Kudus Yesus. Dan seperti komentar indah dari Pastor Hadrianuw Wardjito SCJ di buku tamu website kita, “Tuhan Allah jelas menjadikan setiap lokalitas sebagai bagian dari universalitas kehadiranNya”, semoga embun yang kita teteskan dari web paroki terus kita rindukan kehadirannya.
Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:
- website paroki (2)
- berita paroki (1)
- ebsite paroki arnoldus (1)
- majalah dinding prapaska (1)
- sarana online untuk romo st arnoldus bekasi (1)
- website paroki arnoldus (1)
- website paroki arnoldus bekasi (1)
- www/paroki arnoldus org (1)
Artikel terkait:


Segala sesuatu harus di mulai dengan niat yang positif, dan seterus nya juga, agar media ini menjadi cahaya untuk seluruh umat, demikian mas anang, karena beberapa website sering menjadi tidak terurus karena dalam beberapa hal menjadi komoditi dan aspirasi sebahagian kelompok saja, Tetapi bukan berarti boleh sembarang an isi nya, he he he. teteap harus menimbang berbagai aspek yang majemuk……..
saya yakin dengan upaya kita semua, website ini menjadi hidup terus, dan dapat bergulir terus dengan seiring pergantian pergantian pengurus nya.
Terus maju.. mas…, Bravo……
GBU
Tulisan yang menarik Pak Anang…
Semoga web paroki kita ndak cuman ada pengurus tunggal.
Dan sekali lagi semoga web site Paroki kita ‘ngga ada matinye’.
So, mari kita ‘ramaikan’ web ini dengan genderang info, lagu kegiatan, semilir teguran dan indahnya melodi kebersamaan dengan hadirnya tulisan-tulisan dari dan untuk umat Paroki Arnoldus.
Mari….
Tengkiu Pak Gege…
Web ini layaknya kompleks gereja Arnoldus.
“Koster web” sedang merancang agar tiap kelompok kategorial punya ‘majalah dinding’ sendiri di web ini. Seru kayaknya kalau masing-masing kelompok saling berlomba mengisi dan menghias majalah dinding mrk.
Kalu sudah begitu, tugas koster web jd ringan, cukup bersih-bersih dan sekali-sekali ngatur parkir berita agar tidak semrawut..
Yuuuk…
Pak Anang, Pak Nug dan Pak Ndut,…….
Memang klo web Paroki sepertinya ya tergantung kosternya…..
Semoga banyak yg melamar jadi koster karena kan arealnya luas….apalagi klo dah dikapling kapling kan mesti ada kepala cabang atau satpamnya…
Ayo siapa mau ngelamar jadi Satpam Web….
Mas Bagus