Renungan Minggu Biasa XXV – 20 September 2009

Keb 2,12. 17-20; Yak 3,16-4,3; Mrk 9,30-37

Oleh: Rm. Victor Bani, SVD

 

Rm. Victor Bani, SVDPola pikir Yesus kadang rada aneh. Tindakan-tindakan-Nya juga gak biasa, paling kurang bagi para Rasul dan orang-orang Yahudi lainnya. Ada banyak contoh dalam Injil untuk itu. Saya sebutkan satu dua diantaranya.

Ketika orang-orang kaya Yahudi berlomba-lomba memasukkan derma sebanyak-banyaknya dalam kotak persembahan di Bait Allah, Yesus bukannya memuji mereka, malah mengatakan, yang memberikan paling banyak buat Tuhan justeru seorang janda miskin yang hanya mempersembahkan dua peser miliknya (bdk. Luk 21,1-4). Aneh bukan?

Contoh lain. Dalam Perjamuan Malam Terakhir bersama murid-murid-Nya, setelah makan bersama, tanpa disangka-sangka Yesus membasuh kaki mereka (bdk Yoh 13,1-20). Bagi orang-orang Yahudi, membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba. Masa kan Yesus mau melakukan itu? Apalagi Dia adalah Guru mereka, bahkan Mesias, Putera Allah Yang Mahatinggi. Dan Dia mau membasuh kaki mereka? No, way!! Murid macam apakah mereka bila membiarkan kaki mereka dibasuh? Bisa-bisa mereka dicap kurang ajar dan dianggap tidak berbakti. Makanya, wajar bila Petrus protes keras kepada Yesus.

Contoh ketiga, bisa kita temukan dalam bacaan Injil hari ini. Dalam perjalanan pulang ke Kafarnaum, di tengah jalan, para murid bertengkar satu sama lain, siapakah yang terbesar diantara mereka. Injil tidak menyebutkan apa latar belakang pertengkaran tersebut dan “terbesar” dalam arti apa. Banyak ahli menduga, perselisihan para murid disulut oleh keinginan untuk mendapatkan ‘nama’, ‘pangkat/kedudukan’ dan ‘kehormatan’. Ini sejalan dengan cara berpikir dan budaya hidup orang-orang Yahudi yang sangat memperhatikan ‘status’ dan ‘kedudukan’ dalam masyarakat ataupun kelompok.

Keinginan untuk menjadi yang pertama atau pemimpin merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Semua orang menginginkan itu, termasuk para murid Yesus. Dengan menjadi pemimpin, seseorang pasti akan dihormati. Kalau orang punya kedudukan, dia akan dipuja-puji dan dielu-elukan banyak orang. Siapa yang tidak menginginkan diperlakukan seperti itu? Jika orang memiliki ‘nama besar’ plus kekayaan, apapun yang diinginkannya akan didapatinya semudah membolak-balikkan telapak tangan. Dengan menjadi yang terbesar, seorang murid pasti akan disegani, dihormati, diperlakukan istimewa dan mendapatkan pelayanan terbaik dalam kelompoknya.     

Namun, ‘mimpi’ para Rasul untuk menjadi yang terbesar kandas karena jalan pikiran Yesus yang tidak biasa. Alih-alih menuruti kemauan mereka, Yesus malah mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Pertunjukan apa lagi nich!

Dalam masyarakat Yahudi jaman Yesus, anak kecil tidak mempunyai peran apa-apa. Mereka lemah, tidak punya ‘kekuatan’, malah kadang merepotkan, karena itu boleh diabaikan. Kehadiran mereka sama sekali tidak diperhitungkan. Injil sering membandingkan anak kecil dengan para pemungut cukai, pezinah, orang-orang sakit, mereka yang miskin, para pendosa, dsbnya, yang karena tindakan dan perbuatan mereka, kondisi dan status sosial mereka, seringkali tidak mendapatkan tempat bahkan disingkirkan dari masyarakat.

“Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku …” (Mrk 9,37). Bagi Yesus, barangsiapa ingin menjadi ‘yang terbesar’, dia harus siap-siap menjadi ‘yang terkecil’. Menjadi pemimpin atau yang terbesar berarti siap untuk melayani orang lain dalam nama-Nya seperti seorang menyambut anak kecil. Menyambut anak-anak (=orang-orang sakit, orang-orang kecil, mereka yang miskin, mereka yang tidak mendapatkan tempat dalam masyarakat, mereka yang dicap sebagai pendosa, dll) berarti harus punya banyak waktu buat mereka, mau direpotkan, sabar menghadapi segala perkataan, perbuatan, kesalahan dan kekurangan mereka, membimbing, memperhatikan, menerima dan mengasihi mereka tanpa pamrih.

Pertanyaannya: Mengapa menyambut anak kecil dalam kasih berarti menyambut Yesus sendiri bahkan menyambut Bapa-Nya yang telah mengutus-Nya? Karena Yesus hadir dalam diri ‘anak-anak kecil’. Semasa hidup-Nya, Yesus selalu menyamakan diri-Nya dengan mereka yang kecil, dengan orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat, dengan mereka yang lemah dan dianggap sebagai pendosa. Yesus memberikan amat banyak waktu untuk melayani orang-orang seperti ini. Yesus mau direpotkan, Dia sabar menghadapi dan mengasihi mereka tanpa pamrih.

Orang-orang yang dilayani oleh para pemimpin adalah wakil Yesus sendiri karena barangsiapa menyambut seorang anak, dia menyambut Yesus sendiri. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau melayani. Pemimpin yang baik diukur dari pelayanannya terhadap orang-orang kecil.

Apakah anda ingin menjadi seorang pemimpin yang baik, sama seperti Yesus? Apakah anda ingin, sama seperti para Murid, menjadi orang ‚yang terbesar‘ dalam kelompok dan masyarakat Anda? Bila ya, siap-siaplah jadi ‚yang terkecil‘.

Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:

Artikel terkait:

  1. Pengampunan Yang Menyelamatkan
  2. Kekuatan Terbesar Tanpa Musim
  3. Persembahan Yang Terindah
  4. Yesus: Mesias (Allah) yang menderita
  5. SETIA (mengikuti Yesus) DALAM SUKA DAN DUKA

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>