Renungan Minggu Biasa XXXI –  Hari Raya semua Orang Kudus – 1 November 2009 

Why 7,2-4. 9-14; 1 Yoh 3,1-3; Mat 5,1-12a

Oleh: Rm. Victor Bani, SVD

 

Rm. Victor Bani, SVDHari ini Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Saat merayakan pesta ini, dua pertanyaan yang muncul dalam benak kita adalah mengapa kita perlu menetapkan suatu hari khusus untuk menghormati para Orang Kudus? dan siapakah sesungguhnya Orang-Orang Kudus itu?

Sejak kapan pesta ini mulai dirayakan di dalam Gereja, tidak ada penjelasan yang pasti untuk itu. Tapi pada tahun 313 Masehi, suatu peringatan umum untuk menghormati para Kudus, khususnya para Martir, muncul di berbagai wilayah di penjuru Gereja. Ada dua alasan untuk itu. Yang pertama, adanya kerinduan untuk menghormati sejumlah besar Martir, teristimewa yang wafat pada masa penganiayaan oleh Kaisar Diokletius (284-305). Alasan kedua, karena tidak akan cukup hari dalam satu tahun bila masing-masing Martir dirayakan tersendiri. Lagi pula kebanyakan dari para martir ini wafat dalam kelompok. Oleh karena itu, suatu pesta umum bagi semua orang kudus, dianggap paling tepat.

Penetapan tanggal 1 Nopember sebagai Hari Raya Semua Orang Kudus berkembang seturut berjalannya waktu. Paus Gregorius III (731- 741) mempersembahkan suatu oratorium (tempat berdoa; kapel) yang asli di Basilika St. Petrus demi menghormati semua orang kudus. Oleh karena itu, tanggal ini menjadi tanggal resmi untuk merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus di Roma.

Atas pertanyaan siapakah sebenarnya orang-orang yang digolongkan dalam bilang para Kudus, Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, memberikan jawaban tegas. Orang-Orang kudus adalah mereka yang hidup sesuai dengan perintah dan kehendak Tuhan. Lebih konkret, Orang-Orang Kudus adalah mereka yang hidup miskin demi kerajaan Allah, mereka yang berdukacita, mereka yang lemah lembut dan haus serta lapar akan kebenaran. Menurut Yesus, Orang-Orang Kudus adalah mereka yang murah hatinya, yang membawa damai, yang rela dianiaya karena mempertahankan kebenaran dan yang siap dicela dan dihukum karena nama-Nya. Di antara orang-orang yang masuk dalam kelompok yang disebutkan Yesus di atas, mungkin ada yang kita kenali. Mereka mungkin adalah anggota keluarga, teman, sahabat dan kenalan atau pun tetangga kita. Sama seperti kita, mereka juga mengalami kelemahan manusia, tetapi dengan bantuan Roh Kudus, mereka berhasil mengakhiri perjalanan hidupnya dengan baik.

Setiap kali ketika merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, kita diingatkan pada dua hal. Pertama, kita bersyukur dan memuji Allah karena Dia telah menyelesaikan karya keselamatan-Nya pada begitu banyak orang di dunia, dan kedua, peringatan ini sekaligus juga membesarkan hati setiap kita yang masih hidup di dunia ini supaya tetap bertekun dalam kesetiaan kepada Kristus ditengah-tengah godaan, kelemahan dan penganiayaan.

Setiap orang di dunia ini memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang terlahir sebagai pemimpin dan penguasa, ada yang cuma sebagai rakyat biasa. Ada yang datang dari keluarga “berdarah biru”, ada yang berasal dari keluarga kebanyakan. Ada yang lantas menjadi imam, biarawan dan biarawati, ada yang memutuskan untuk menjadi petani, guru, pegawai pemerintah, pengusaha, dokter, pedagang, dan sebagainya. Meskipun berbeda satu dengan yang lainnya, namun sebagai orang Kristiani, sebagai orang Katolik, kita memiliki tujuan yang sama. Siapapun kita, apapun latar belakang, status dan kedudukan kita,  apapun pekerjaan kita dan di manapun kita berada, kita semua dipanggil untuk menjadi Kudus! Paulus dalam surat pertamanya kepada orang-orang di Tesalonika mengatakan bahwa Tuhan menghendaki agar semua manusia hidup kudus dihadapan-Nya (1 Tes 4: 3). St. Theresia dari kanak-kanak Yesus menunjukkan bahwa kekudusan itu dapat dicapai oleh siapa saja betapa pun rendah, hina dan biasanya orang itu. Caranya ialah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cinta kasih murni kepada Tuhan.

Seandainya anda tertarik menjadi ‚kudus‘ seperti Orang-Orang Kudus, caranya gampang, belajarlah dari cara hidup mereka dan praktekkanlah apa yang dikatakan St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus: bertekun dan setialah melaksankan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari anda dengan penuh cinta kasih murni kepada Tuhan.

Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:

Artikel terkait:

  1. „Menjadi Orang Kaya yang Pandai“
  2. Kesaksian: “kita harus setia pada janji perkawinan”
  3. Salib Terberat dalam Hidup Kita
  4. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita
  5. Lowongan Kerja di Departemen Pekerjaan Umum untuk >500 Orang

2 Responses to “Orang Kudus dan Kita”

  1. Anang, yb says:

    Terima kasih atas renungannya Romo Viktor..
    Renungan Romo kami pakai untuk penutupan doa rosario malam ini di Gregorius Agung 1..

    • admin_victor says:

      salam dari arnoldus,
      Kisah hidup para orang kudus kita selalu menarik untuk dibaca. Untuk bisa masuk dalam kumpulan para kudus, mereka harus jatuh bangun dalam hidup. Manusia jaman sekarang, termasuk kita, baru sekali aja jatuh dalam hidup, mengeluhnya berulang-ulang. Kapan-kapan kita rosario bareng di GA 1 ya…

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>