Komentar ibu Whina di situs parokiarnoldus.org yang menyoroti tentang renovasi gereja dan kema(mp)uan Dewan paroki membagi sumbangan untuk kaum miskin rasanya pas banget dengan apa yang saya alami.

Bagaimana tidak, komentar itu saya baca sesaat setelah saya pulang dari gereja menjalankan tugas suci nan mulia nan membanggakan yakni menjadi petugas tata tertib gereja pada misa Minggu jam 18.30. Gugatan Ibu Whina yang seolah ingin mengatakan “emang nggak ada urusan lain selain ngomongin renovasi gereja” seolah mewakili pemikiran sebagian umat tapi bukan pemikiran ’sukarelawan petugas misa’ seperti prodiakon, petugas tata tertib, petugas pengatur sound system, dan petugas keamanan.

Anda masih ingat kondisi gedung gereja sebelum ada renovasi? Daya tampung gereja yang tidak memadai membuat umat membludak dan efeknya umat akhirnya harus berkompromi untuk mencari tempat duduk di sudut-sudut gereja. Dengan adanya renovasi, persebaran tempat duduk umat menjadi lebih kacau balau karena musti berkompromi dengan ketersediaan halaman yang menyempit. Bila sudah demikian, maka petugas prodiakon, petugas keamanan, dan petugas tata tertib musti bekerja ekstra keras karena tidak menyatunya tempat duduk umat.

Yang membuat sedih sekaligus gemas kemudian adalah, masih saja ada umat yang lebih suka membuat barisan tempat duduk sendiri. Mengangkat kursi plastik dan mojok di sana-sini. Saran dari petugas tatib agar mereka bersedia mengisi bangku kayu yang masih kosong hanya disambut dengan senyum kecil namun tetap saja posisi di belakang, di bawah pohon dan syukur-syukur yang remang-remang tetap lebih menarik.

Mereka tampaknya tidak menyadari, dengan acak-adutnya posisi duduk umat akan membawa pengaruh pada kekhidmatan dan kelancaran misa kudus, yakni:

- Proses pengumpulan kolekte akan lebih lama karena kantong kolekte harus beredar lebih panjang

- Petugas tata tertib harus ekstra wira-wira karena musti menjaga dan mengawal kantong kolekte ke setiap sudut halaman gereja

- Petugas keamanan gereja musti lebih banyak menengok kanan-kiri

- Jumlah titik penerimaan komuni musti ditambah

- Berisiko terjadi ketidaktertiban penerimaan komuni karena tidak jelasnya siapa yang musti berbaris lebih dulu karena acak-adutnya bangku plastik.

Bila sudah demikian, maka sebagai ‘rakyat kecil’ saya mendukung terwujudnya mimpi kita, memiliki bangunan gereja yang lebih representatif, lebih luas, lebih besar daya tampungnya, lebih kompak dan menyatu tempat duduknya.  Dan.. untuk mewujudkan mimpi itu hanya ada dua cara yang bisa kita tempuh, yang pertama, meminta bantuan Aladin agar dia mau menggosokkan lampu ajaibnya dan alakazaaaam.. gereja nan megah untuk umat paroki St. Arnoldus Janssen, Bekasi muncul di depan mata kita. Atau, kita pilih cara kedua: rela hati berdoa untuk kelancaran proses renovasi, berdoa untuk panitia renovasi yang dengan penuh dedikasi terus bekerja untuk itu, memberikan sebagian dari rejeki kita untuk terwujudnya rumah Tuhan itu dan.. membuang rasa egois kita yang kadang ingin menggerutu, “bosen ah.. tiap hari ngomongin renovasi melulu.” Sebuah gerutuan yang seolah memposisikan diri kita ada di luar dari hiruk-pikuk gagasan renovasi gereja. Seolah kita hanyalah penonton pertunjukan misa; kalau pertunjukannya bagus ya okelah.. kalau jelek merasa berhak dan bebas untuk menggerutu.

Ketua Lingkungan Sinting

Lini G Hafaniah, seorang sahabat saya yang tidak terkenal dan tidak penting menyebut saya sebagai seorang ketua lingkungan sinting dengan gagasan gila. Bahkan dia wanti-wantibila nanti berdekatan dengan saya, “…Jika Anda masih waras dan normal, hati-hati kalau berakibat tertular sinting ikut-ikutan melakukan yang dilakukan Pak Keling.”

pondokpaktotok2Sinting menurut Lini yang sahabat saya itu adalah ketika seorang “keling” (ketua lingkungan) berpikiran out of the box, berkhayal melebihi katak yang terkungkung batok kelapa. Dan dua kesintingan saya yang membuat dia geleng-geleng kepala (dia ungkap saat me-review buku saya “Sandal Jepit Gereja”) adalah saat saya mengompori umat di lingkungan saya yang cuma 25 keluarga untuk: menghadiahi rumah (betul-betul rumah) kepada salah satu umat yang terlantar, dan membuat program koin untuk Yesus.

Membuat rumah dan kemudian memberikan begitu saja kepada salah satu umat memang program miracle yang bahkan sampai kini pun saya masih tidak percaya atas kesungguhan Tuhan melibatkan diriNya dalam program paskahan kami tahun 2007 lalu. Dengan sedikit dana stimulan dari Paroki, umat di lingkungan saya, semiskin apa pun dia akhirnya bisa mendirikan satu pondok sederhana untuk salah satu umat di sana.

Tapi gagasan “koin untuk Yesus” sesungguhnya bukan kesintingan saya yang orisinil. Saya copy kesintingan itu dari anjuran, himbauan, dan desakan yang disampaikan oleh pengurus Dewan Paroki yang digawangi oleh Romo Anselmus Selvus, SVD.

Mengapa saya buru-buru merealisasikan gagasan koin untuk Yesus? Ya karena saya pun pernah disemprot umat seperti komentar Ibu Whina di situs ini. Seorang ibu di lingkungan saya ngambeg karena menuduh saya tidak kooperatif untuk mencarikan dana pendidikan lewat seksi sosial paroki.  Sedikit banyak saya tahu bahwa seksi sosial paroki ibarat seorang pasutri yang kere namun tidak pernah ber-KB. Anaknya banyaaaaak…. sekali dan semua lebih suka menengadahkan tangan untuk minta bantuan ini itu. Ratusan anak mengantri minta bantuan. Belum termasuk deretan pembawa proposal dan pembawa surat keterangan butuh ongkos pulang yang datang dari terminal.

Bila sudah demikian, maka gagasan sinting untuk mengumpulkan koin dari kekurangan kita dan kemudian dikelola oleh lingkungan untuk membantu kaum miskin, menjadi sesuatu yang penting untuk diprioritaskan, setidaknya bagi saya dan umat di lingkungan Gregorius Agung 1.  Saya tidak peduli biar pun banyak rekan sejawat saya yang sesama ketua lingkungan yang jumlahnya seratusan itu, masih saja ada yang menunda untuk merealisasikan anjuran, himbauan, dan desakan Romo Anselmus Selvus, SVD.

Untuk Prita yang tidak saya kenal itu, rakyat Indonesia rela hati mengumpulkan koin. Untuk Yesus yang hadir dalam rupa anak-anak putus sekolah, orang tua renta yang menanti uang berobat, apakah Anda juga akan berbagi koin? Semuanya kembali kepada Anda. Empat kali pertemuan Advent di lingkungan Anda telah dari dari cukup untuk mengetuk pintu hati Anda. Ataukah Anda harus disadarkan oleh kokok ayam layaknya murid Yesus yang melalaikan janji setianya? Semoga tidak.

Untuk Anda, saya bagikan naskah drama “KOIN UNTUK YESUS” yang bisa Anda download dari situs ini. Naskah ini pernah dimainkan oleh anak-anak bina iman di Gregorius Agung 1 untuk membangkitkan rasa solidaritas umat lewat komunitas basis di lingkungan. Silakan Anda download dan baca. Kalau cocok… mainkan!

Selamat menanti natal.

(Betul-betul pendapat pribadi dari Anang Y.B. )

Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:

Artikel terkait:

  1. Antara Cinta dan Pengkhianatan
  2. Jadual Petugas Prodiakon Maret 2010
  3. Petugas Prodiakon Periode Desember 2009
  4. Ketua Wilayah dan Ketua Lingkungan 2009-2012
  5. Catatan Harian Seorang Ketua Lingkungan

2 Responses to “Antara Petugas Tatib dan Ketua Lingkungan Sinting”

  1. Lini says:

    eh nambah, baru sadar makau Lini G. Hafaniah
    G itu Genevieve
    emang nama baptis letaknya di tengah ya? ;p

  2. Lini says:

    antara senang dan jengkel nih dapat pingback dari artikel ini.

    senangnya dulu deh,
    di doa ibu… eh salah hehehe
    dalam artikel ini, ada namaku disebut…

    jengkelnya,
    namaku disebut Hafaniah, harusnya HANAFIAH
    whoaa.. Papa, jangan bangkit dari kubur karna namamu salah ketik yaa…
    hiks…

    eniwei, keep the sinting Keling alive!

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>