Renungan Minggu – Hari Minggu Biasa V – Tahun C – 7 Februari 2010
Yes 6,1-2a. 3-8; 1 Kor 15,1-11; Luk 5,1-11
Oleh: Rm. Victor Bani, SVD
Bacaan Injil hari ini mengisahkan panggilan para murid pertama setelah mereka gagal menangkap ikan semalam suntuk. Berbeda dengan ceritera panggilan dalam Injil-Injil lainnya, penginjil Lukas menampilkan kisah panggilan ini dalam gaya yang dramatis.
Sesudah berusaha menangkap ikan semalam suntuk tanpa hasil, para murid bertemu dengan Yesus yang baru selesai mengajar orang banyak. Perjumpaan ini membawa para murid pada pengalaman iman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan. Atas perintah Yesus, sekali lagi mereka menebarkan jala ke danau meskipun semula mereka enggan melakukannya. Apa yang mereka dapatkan, sungguh di luar perkiraan. Mereka bukan saja berhasil menangkap sejumlah besar ikan, bahkan jala merekapun mulai koyak, tak sanggup untuk menampung semuanya. Keberhasilan ini menyadarkan mereka bahwa dalam diri Yesus ada suatu ‚alternatif‘ lain yang perlu dipertimbangkan. Tanpa pikir panjang, tawaran Yesus untuk menjadikan mereka ‚penjala manusia‘, diterima. Mereka memutuskan untuk mengikuti Dia, dan keputusan ini menentukan perjalan hidup mereka selanjutnya.
Ada dua hal yang bisa kita petik dari kisah panggilan ini.
Yang pertama: inisiatif panggilan itu selalu berasal dari Allah. Tuhanlah yang terlebih dahulu memanggil kita. Yesuslah yang datang kepada murid-murid-Nya, memilih mereka, memanggil mereka untuk mengikuti Dia, dan bukan sebaliknya.
Persoalannya, bagaimanakah caranya mengetahui bahwa Allah telah memanggil dan memilih kita untuk menjadi pelayan-Nya.
Mungkin pengalaman pribadi ini bisa membantu menemukan jawabannya. Sebelum mengikrarkan kaul kekal dalam SVD, saya dan empat orang teman lain mengadakan ret-ret persiapan selama seminggu di biara SVD di salah satu kota kecil di Belgia. Waktu berangkat ke sana, tidak ada seorangpun dari kami yang tahu, apakah permohonan kami untuk berkaul kekal dikabulkan atau tidak. Selama ret-ret, satu-satunya pertanyaan yang muncul dalam pikiran kami: apakah lamaran kami diterima atau tidak. Dan karena pertanyaan ini sangat mengganggu, pemimpin ret-ret memutuskan untuk menanyakan hal tersebut kepada para pembesar serikat. Beberapa waktu kemudian jawaban datang. Ternyata, salah seorang teman kami tidak diijinkan untuk mengikrarkan kaul kekal. Padahal orangnya sangat baik dan dia sungguh-sungguh ingin menjadi imam. Bagi dia, tidak ada pilihan lain selain menjadi imam. Sementara itu, seorang teman lain, yang diijinkan untuk berkaul, malah memutuskan untuk mengundurkan diri. Pengalaman ini menunjukkan bahwa bila Tuhan tidak memanggil seseorang, seberapa kuatpun dia berusaha, pasti tidak akan pernah berhasil. Inisiatif panggilan selalu berasal dari Allah, Tuhanlah yang memilih kita, bukan sebaliknya.
Yang kedua: Tuhan tidak pernah memanggil orang-orang kudus, Tuhan tidak pernah memilih orang-orang yang suci untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Dia memanggil orang yang biasa-biasa saja. Bahkan sama sekali jauh dari kudus. Bahkan Lewi, salah seorang murid-Nya adalah seorang pemungut cukai. Seseorang yang dianggap sebagai pendosa oleh orang-orang Yahudi. Tuhan tidak pernah melihat status dan latar belakang seseorang, apa kedudukan dia, dari mana dia datang, apa pekerjaan dia, dan sebagainya. Tuhan tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Satu-satunya yang membuat Tuhan peduli adalah hati seseorang. Apakah dia terbuka terhadap undangan Tuhan, apakah dia mau menerima panggilan Tuhan tersebut. Itulah yang dilihat oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah memanggil orang-orang kudus untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya, tetapi Dia memanggil kita semua untuk menjadi orang-orang yang kudus, Dia memilih kita semua untuk hidup kudus dihadapan-Nya.
Tuhan telah mengutus Putera-Nya untuk datang ke dunia, Dia telah ada di tengah-tengah kita. Dia memanggil kita untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Dan kita telah menjawabi undangan-Nya itu dengan cara kita masing-masing. Ada yang menjawabinya dengan menjadi biarawan dan biarawati, ada yang menanggapi itu dengan membangun sebuah keluarga. Ada yang menjawabinya dengan menyerahkan dirinya seutuhnya untuk melayani Tuhan dan sesama, ada yang melayani Tuhan dengan memberikan sebagian harta yang dia miliki untuk sesamanya, dan sebagainya. Kita semua telah menjawabi undangan Tuhan sesuai dengan cara, bakat dan kemampuan kita masing-masing.
Tidak penting bagi Tuhan bagaimana caranya kita menjawabi undangan-nya itu. Yang terpenting bagi Dia, apakah kita menjalankan panggilan kita masing-masing itu dengan sepenuh hati atau tidak. Tuhan telah memilih kita yang tidak layak ini, yang penuh dengan dosa dan salah ini untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya, menjadi pelayan-pelayan-Nya, untuk melayani Dia dan sesama kita. Janganlah kita sia-siakan kepercayaan Tuhan ini, marilah kita layani Dia dan sesama kita, sesuai dengan jalan hidup yang telah kita pilih. Kita layani mereka dengan hati yang tulus dan iklas, dengan cinta dan pengorbanan tanpa batas. Dengan demikian kita akan memperoleh upah yang besar di surga.
Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:
- penjala manusia (10)
- penjala ikan menjadi penjala manusia (8)
- panggilan hidup manusia (3)
- menjadi penjala manusia (3)
- renungan harian katolik LUKAS 5:1-11 (2)
- renungan harian katolik penjala manusia (2)
- memilih panggilan hidup UMUM (2)
- renungan rohani dari Lukas 5:1-11 (2)
- renungan penjala ikan menjadi penjala manusia (2)
- lagu panggilan hidup (2)
Artikel terkait:

Meniti Panggilan Hidup Membiara, juga perlu dana ………….
Kesanggupan menjalani panggilan bukanlah faktor utama namun juga bukanlah sesuatu yg kurang penting, tapi juga ikut menentukan dalam proses tersebut.
Ada yg mengatakan bahwa Tuhan tidak datang untuk orang benar tapi justru Tuhan datang untuk orang berdosa dan orang kecil. Demikianpun juga dengan Panggilan.
Dimasa sekarang ini masih relevankah ungkapan itu, apakah orang kecil dan orang miskin misa dengan mudah menapaki jalan panggilannya (secara khusus untuk panggilan hidup membiara)
Salah satu contoh saja seorang remaja yg begitu kuatnya setamat SMP ingin melanjutkan studi di Seminari Menengah, berapa rupiah orang tua harus mengeluarkan biaya dari kantongnya? Seandainya orang tua betul2 tidak mampu, apakah juga tetep bisa?
Di Seminari Menengah mungkin masih menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya, seberapapun beratnya selanjutnya setelah masuk seminari Tinggi apakah orang tua juga sama sekali tak mengeluarkan biaya? seberapapun tentu juga masih ikut ambil bagian.
Hal yg perlu kita kita sikapi bersama dan menjadi pemikiran kita adalah bagaimana di masa sekarang ini kita bisa memberikan dukungan kepada saudara kita yg meniti jalan panggilan untuk hidup membiara, andaipun bukan sokongan bantuan materiil bantuan moril pun juga sangat di perlukan bukan hanya untuk yg menjalani panggilan tapi juga untuk orang tuanya yang merelakan putra putrinya menjalani panggilan hidup membiara agar semakin kuat dan mampu mencari dan memberikan sokongan dana buat putra putrinya.
Semoga semakin subur ladang Tuhan juga diimbangi dengan semakin banyaknya pekerja-pekerja di ladang Tuhan. Amin….
Salam
Bagus