Holy Family
Image by Lawrence OP via Flickr

Jakarta, 10 Mei 2010.
Kepada keluarga-keluarga kristiani
Se-Keuskupan Agung Jakarta
di tempat

Salam damai dalam kasih Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosep.
Bulan yang lalu, saya mengajak Anda semua, untuk melihat bahwa Keluarga Kudus Nazareth merupakan model, pola, teladan yang sempurna dari perkawinan dan hidup berkeluarga. Kita dapat menemukan dalam Keluarga Kudus semua kebajikan terlebih terkait perkawinan dan hidup berkeluarga. Yesus, Maria dan Yosef, hidup bersama dalam semangat rukun dan damai. Hidup bersama dalam semangat rukun dan damai terjadi karena setiap pribadi berkembang dalam iman kepada Tuhan, bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan sesama, bekerjasama saling menolong  dan tidak memaksakan kehendak.

Perjumpaan kita kali ini masih melanjutkan permenungan kita bulan yang lalu mengenai Keluarga Kudus sebagai model, pola, teladan yang sempurna dari perkawinan dan hidup berkeluarga. Di dalam Keluarga Kudus Nazareth, menjadi nyata bagaimana Allah mencurahkan kasih dan perhatian-Nya. Di dalam Keluarga Kudus Nazareth juga pada saat yang sama jawaban manusia atas kasih Allah itu menemukan bentuknya yang sangat jelas.

Kita memulainya dari Santo Yusuf. Jika kita memperhatikan di dalam Kitab Suci, jelas sekali bagaimana Santo Yusuf menanggapi kasih dan perhatian Allah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang menjadi kehendak Allah di dalam dirinya. Kisah seputar kelahiran Yesus, menampilkan sosok Santo Yusuf yang “berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24).

Tampak jelas disini bahwa Yusuf melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah bagi dirinya. Yusuf mau bekerjasama bersama dengan Allah. Tindakan yang dilakukannya ialah “mengambil Maria sebagai isterinya”. Ada beberapa nilai yang bisa kita cermati dari sikap Santo Yusuf ini. Pertama, Yusuf memiliki penguasaan diri yang kuat. Kedua, penguasaan diri membuat dia memberikan dirinya kepada Maria. Ketiga, kesanggupan Yusuf dalam menguasai dan memberikan diri bagi Maria membuatnya setia mendampingi Maria.

Jika kita memperhatikan – sebagaimana Kitab Suci melukiskan – bahwa Yusuf sebenarnya ingin menceraikan Maria meskipun secara diam-diam. Tetapi ia sanggup menguasai diri, memberikan diri, dan akhirnya menjadi suami yang setia bagi Maria. Semua ini bisa terjadi karena Yusuf melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah dalam hidupnya. Belajar pada tokoh Santo Yusuf ini, setiap anggota di dalam keluarga berusaha dan belajar terus menerus untuk sanggup menguasai diri dalam banyak hal. Pemberian diri bagaimana pun mesti disertai oleh kesanggupan untuk menguasai diri.

Perkawinan dan hidup berkeluarga bisa kita ibaratkan sebagai sebuah sekolah. Sekolah yang melatih dan mendidik orang untuk belajar menguasai diri, memberikan diri, dan akhirnya menjadi orang yang setia dalam berkomitmen. Dalam terang iman, kita bisa berkata bahwa kemampuan untuk menguasai diri, memberikan diri, dan akhirnya menjadi orang yang setia dalam berkomitmen bertumpu pada kerelaan untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah dalam hidup.

Seorang suami yang ingin dan senang sekali berkumpul bersama teman-temannya di luar rumah dalam jangka waktu yang cukup lama, tetapi ia memutuskan untuk berkumpul bersama isteri dan anak-anaknya adalah suami menguasai diri. Kesenangan-kesenangan pribadi yang dikorbankan dengan rela hati demi keluarga merupakan bentuk konkret dari penguasaan diri. Mereka yang bisa menguasai dirinya dalam banyak hal adalah mereka yang memberikan dirinya. Dan mereka yang mampu memberikan dirinya bisa diandalkan untuk menjadi orang yang setia dalam membangun komitmen.
Kehidupan bersama dalam perkawinan tentu saja menempuh dinamikanya sendiri. Selalu ada pengalaman yang menyenangkan. Tetapi seringkali berbagai hambatan bisa saja muncul mengancam kebersamaan. Menepati dan hidup berdasarkan janji perkawinan bukan perkara mudah. Menangisi dan meratapi perkawinan yang sudah disatukan oleh Tuhan melalui pemberkatan di Gereja tak banyak menyelesaikan soal. Mengakhiri sebuah perkawinan dengan perpisahan bukan cara bijaksana dalam menyelesaikan konflik.
Hal yang bisa dilakukan untuk mengalami kebersamaan yang membahagiakan – sekali lagi ialah: belajar dan berusaha terus menerus untuk menguasai diri, memberikan diri, dan akhirnya menjadi suami-isteri yang setia. Itu semuanya bukan sesuatu yang begitu saja tercapai melainkan buah dari sebuah usaha dan pengorbanan. Kebersamaan dalam perkawinan selalu berarti siap untuk menerima pasangan, kelebihan dan kekurangannya. Masa ketika orang mengalami banyak sekali kesulitan merupakan kesempatan yang baik untuk menguji komitmen dan melihat kembali perjalanan kebersamaan dalam perkawinan.
Teladan Keluarga Kudus Nazareth, teladan Santo Yusuf, mengajari setiap anggota di dalam keluarga, mengajari suami-isteri dan anak-anak untuk mengusahakan kebersamaan yang membahagiakan dalam perkawinan dan hidup berkeluarga dengan: belajar dan berusaha terus menerus untuk menguasai diri dalam banyak hal, memberikan diri, dan akhirnya menjadi suami-isteri yang setia. Bagi seorang suami, kenyataan yang membuat hidupnya bernilai ialah ketika ia menjadi seorang suami yang setia bagi isterinya dan ayah yang baik bagi anak-anaknya. Melakukan kehendak Allah di dalam perkawinan, bagi seorang suami berarti: menjadi suami yang setia bagi isterinya dan menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Sampai jumpa pada edisi mendatang.
Salam dalam nama Keluarga Kudus, Yesus, Maria dan Yosep

Rm. Ignas Tari, MSF
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta

Reblog this post [with Zemanta]

Pengunjung menemukan artikel ini dengan kata kunci:

Artikel terkait:

  1. Surat Keluarga Bulan Agustus
  2. Surat Keluarga Bulan Juli 2010
  3. Surat Keluarga bulan Juni
  4. Surat Bapak Uskup Untuk Keluarga
  5. Belajar (rendah hati) dari Maria

Tags:

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>