GEREJA TERMINAL Gereja Yang Mudah Di Akses


Tahun 1958-1978

Lahir Stasi Bekasi Keuskupan Agung Jakarta

Paroki Terminal . . . Ya, dua kata yang langsung teringat kalau membahas soal Gereja St. Arnoldus Janssen. Lokasinya yang sangat strategis dan benar-benar berdampingan dengan Terminal Kota Bekasi ini membuat siapa pun tak sulit menemukannya. Bahkan sedari dulu, Gereja ini sudah menjadi tempat singgah umat yang datang dari segala penjuru.

Bermula dari gagasan untuk memperluas wilayah pelayanan Keuskupan Agung Jakarta serta mengakomodasi perkembangan umat yang begitu pesat, maka pada tahun 1958 dimulailah perjalanan Paroki ini. Bermodal sebidang tanah di pusat kota Bekasi tepatnya di Jl. Ir. H. Juanda, harapan yang besar tertanam agar semakin banyak umat yang dapat dijangkau.

Pada tahun 1966, cikal bakal Paroki Bekasi diawali dari berkumpulnya 11 orang yang terdiri atas 2 keluarga dan 3 orang bujang. Mereka bisa dikatakan sebagai umat perdana yang mempelopori terbentuknya komunitas Katolik di Bekasi. Selain misa yang mengambil lokasi di rumah-rumah umat secara bergantian, banyak juga kegiatan yang diadakan bersama, salah satunya perayaan Natal perdana di tahun 1966.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 1967 didirikanlah sekolah Strada Budi Luhur yang kala itu menjadi sarana pusat untuk mengadakan perayaan ekaristi rutin selama sebulan sekali hingga tahun 1970.

Agar semakin memperkuat tonggak perkembangan umat Katolik di Bekasi, akhirnya pada tahun 1970 Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Bekasi menjadi sebuah Stasi. Di bawah naungan Gereja St. Maria Dipamarga Klender, pelayanan dan kegiatan di Stasi Bekasi pun makin diintensifkan, dari misa sekali dalam sebulan ditambah menjadi dua kali dalam sebulan. Seiring laju pembangunan kota Bekasi yang begitu cepat, perkembangan Stasi Bekasi pun mengalami kemajuan yang pesat. Benar saja, pada tahun 1975 sudah ada sekitar 250 hingga 400 umat di Stasi ini dengan jangkauan lingkungan yang tersebar cukup luas di wilayah Bekasi. Mulai dari Tambun, Teluk Buyung, Teluk Angsana, Cikarang, Babelan, Kranji, Bekasi Utara, Bekasi Timur, hingga Bekasi Selatan.

Jumlah umat terus menerus bertambah dibarengi pelayanan para Pastor dan Frater yang intensif, membantu pertumbuhan Stasi ini sejak tahun 1965 hingga 1979.


1979: LAHIRNYA PAROKI BEKASI

Setelah melalui perjuangan yang panjang dan berat, maka pada 25 Februari 1979 Stasi Bekasi ditetapkan menjadi Paroki oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Leo Sukoto, SJ.

St. Arnoldus Janssen yang merupakan pendiri Serikat Sabda Allah (SVD) dipilih sebagai nama pelindung Paroki Bekasi ini. Adapun Pastor Jan Lali, SVD ditunjuk menjadi Pastor Kepala Paroki pertama yang akan mengawal perkembangan Paroki Bekasi ke arah yang lebih baik.

Pada awal mula Paroki Bekasi berdiri memiliki sekitar 700 orang umat dalam 4 lingkungan dan 3 wilayah. Pesatnya pertumbuhan umat dan citra Bekasi sebagai penyangga ibu kota Jakarta membuat Gereja St. Arnoldus Janssen menjadi Paroki yang semakin besar.

Memasuki tahun 1990 hingga tahun 2000 an, kecenderungan bertambah pesat jumlah umat tergabung di Paroki Bekasi kian menggelembung. Perkembangan ini menjadi dasar pertimbangan melahirkan Paroki-Paroki baru di beberapa wilayah di Bekasi, seperti Gereja St. Mikael Kranji pada tahun 1991. Gereja St. Bartolomeus Taman Galaxi pada tahun 1995, Gereja St. Clara Bekasi Utara pada tahun 1996, dan Gereja Ibu Teresa Cikarang pada tahun 2004.


PAROKI BEKASI KEKINIAN

Berbicara soal gereja fisik, Paroki Bekasi mendirikan bangunan gereja pertamanya pada tahun 1987 dengan gaya Joglo berkapasitas 1.500 orang. Tahun berganti tahun, walaupun telah diadakan lima kali misa dalam seminggu, nyatanya masih belum cukup mengakomodasi seluruh umat untuk beribadah di dalam gereja. Hal tersebut disiasati dengan menambahkan sarana Aula Paroki agar seluruh umat bisa tertampung. Perjalanan puluhan tahun sebuah Paroki yang besar pun dibarengi dengan perwajahan baru. Mulai dari dibangunnya Kapel St. Maria de Fatima pada tahun 2000, Aula Paroki berlantai dua pada tahun 2004 beserta fasilitas penunjang kegiatan seksi lainnya. Kemudian, perjuangan jatuh bangunnya renovasi bangunan Gereja mewujudkan gedung dengan perluasan kapasitas sebesar 2.500 orang. Gedung Gereja ini kemudian diresmikan kembali oleh Mgr. Ignatius Suharyo pada tahun 2011. Yang paling terkini adalah pembangunan kembali Gedung Karya Pastoral dan Aula Paroki baru berlantai dua dengan segala fasilitasnya yang lebih memadai. Aula Paroki dan Pastoran ini secara khusus diresmikan oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo tepat pada perayaan ulang tahun Paroki Bekasi yang ke-39.

Paroki Bekasi kini memiliki dua Stasi dengan total 48 wilayah dan 191 lingkungan. Perkembangan pesat dari Paroki ini pun didukung oleh enam bidang, yaitu Bidang Peribadatan, Bidang Pewartaan, Bidang Pelayanan, Bidang Persekutuan, Bidang Pengembangan, dan Bidang PHP yang membawahi 16 seksi, yaitu Seksi SKK, Seksi HAAK, Seksi Keadilan dan Perdamaian, Seksi Pelatihan dan Pengkaderan, Seksi Litbang, Seksi Liturgi, Seksi Devosi, Seksi Katekese, Seksi KKS, Seksi Kepemudaan, Seksi KOMSOS, Seksi Panggilan, Seksi Kesehatan, Seksi Pendidikan, Seksi PSE, serta Seksi St. Yusuf.


Some of our Partner